Pak Supir yang Baik Hati
“Laskar Pelangi”
Lyrics:
3
[intro] A D A D
A D
mimpi adalah kunci
C#m D E
untuk kita menaklukkan dunia
C#m D
pahamilah tanpa lelah
C#m D E
sampai engkau meraihnya
A D
laskar pelangi
C#m D E
takkan terikat waktu
F#m C#m
bebaskan mimpimu di angkasa
D E
raih bintang di jiwa
[chorus]
A D
menarilah dan terus tertawa
A D
walau dunia tak seindah surga
F#m D A E
bersyukurlah pada Yang kuasa
F#m D Bm
cinta kita di dunia
E A
selamanya
[interlude] A D 2x
A D
cinta kepada hidup
A D
memberikan senyuman abadi
Bm C#m
walau hidup kadang tak adil
D E
tapi cinta lengkapi kita
Bm C#m
lalalalaaaaa
D E
haaa ha haaaaa
Bm C#m
laskar pelangi
D E
takkan terikat waktu
Bm C#m
jangan berhenti mewarnai
D E
jutaan mimpi di bumi
[chorus]
A D
menarilah dan terus tertawa
A D
walau dunia tak seindah surga
F#m D A E
bersyukurlah pada Yang kuasa
F#m D E
cinta kita di dunia
A D
laskar pelangi
A D E A
takkan terikat waktu
The MoffAts
Title : Love
The first time i saw you
You were walking down the Beach at Night
With the waves bowing down to you
In the bright Moonlight
Well it must have been the Signals from up Above
Cause deep inside I knew..That it was LOVE..
And it Turns me on…
Like when the Sun goes down And The MooN cOMES up
Sweet..Sweet LovE
lIKE no other man hasn’t been touch
By The Simple Process Of Love
I wish There wash away to show You How love it’s mean
But Webster hasn’t found the words to express how it feels
Well it must need the rain to Flow
You wARM a heart that once was cold with Your LoVE
aNd it turns me on
Like when the sun gOes down AND the moon comes Up
Sweet…Sweet Love Like no other Man hasn’t been touch
By tHe simple process of Love…
oOH..Yeah … iT was Love……
Be New You
Ular konon bisa diam berjam-jam menunggu mangsanya. Tapi, begitu mangsa didepan mata dia bisa menerkam dalam orde sepersekian detik. Artinya, si ular tahu betul artinya sabar. Sabar bukan berarti lambat. Sabar selalu dikombinasikan dengan kecepatan, bukan sekedar kecepatan, tapi kecepatan yang luar biasa. Kita perlu belajar sabar dari ular.
Dunia kerja kurang lebih seperti itu, ritmenya sangat lambat. Normalnya kenaikan gaji dilakukan satu tahun sekali, kenaikan pangkat dilakukan setiap empat tahun sekali. Dan empat tahun itu bisa berarti waktu yang sangat lama, apalagi bagi perusahaan yang memiliki sistem promosi yang lebih tradisional. Jikalau tidak sabar bisa jadi potensi kita hanya bertahan di satu dua tahun pertama. Tahun berikutnya memble, dan tahun promosi justru kita menjadi malas-malasan ataupun tidak perduli.
Pertanyaannya seberapa lama kita bisa bersabar? dan seberapa siap kita untuk menerima hasil penantian kesabaran itu.
Seorang engineer yang baik misalnya membutuhkan waktu 8 tahun sejak dia diterima bekerja untuk kemudian menjadi manager network regional. Tahun tahun pertama bekerja engineer itu menyelesaikan semua pekerjaannya dengan baik hingga tibalah tahun keenam dari penantiannya. Ternyata di tahun keenam itu ‘bencana’ terjadi. Ada perubahan struktur, GM regional yang baru ternyata mempersiapkan kandidat lain sebagai manager regional, sehingga sakit hatilah si engineer baik hati tersebut.
Kembali pada kasus ular tadi, bisakah engineer tadi belajar dari sang ular? bukankah dia sudah menanti dengan sabar selama enam tujuh tahun lamanya. Targetnya memang sudah didepan mata, tapi ternyata ada faktor lain yang mengubah takdirnya sebagai penerkam mangsa. Faktor itu bernama timing, kesesuaian waktu.
Ular memang sangat sabar, dia sudah bisa melihat target santapannya dengan sangat jelas. Sekali target itu terlihat dan selamanya target itu terekam dalam ingatannya. Artinya, ular betul-betul memperhatikan dengan detail gerakan sang mangsanya. Meskipun posisi target sangat dekat, ular tidak akan menyerang bila posisinya tidak menguntungkan.
Dunia kerja mungkin jauh lebih rumit, kita bisa mempraktekkan ilmu sabar si ular dalam dunia ini. Dan kalaupun kita mau, ‘ular’ juga punya banyak cara lain untuk menerkam mangsanya. Anda tahu caranya?
Ditulis dalam Leadership.
Baju Baru….Buat Lebaran + Shooping Segala Macem..
ASS….
Walaupun Lebaran kurang lebih 2 minggu lagi,tapi sebagian orang udah pada sibuk ya….belanja segala macem….weleh weleh…tapi seru kan Memang Hari tersebut merupakan hari kemenangan jadi patut dirayakan….
Tapi jangan boros ya…..Nih kita harus bijak dalam belanja….Biar ga kebobolan …..
Carranya :
Kontrol Pengeluaran dengan membuat anggaran belanja yaitu
Usahakan membeli barang untuk keperluan Ramadhan dan Idhul Fitri jauh-jauh hari menjelang hari H karena belum mengalami lonjakan kenaikan harga yang tinggi. Sayangnya tradisi perusahaan di negara kita memberikan uang THR mendekati lebaran sehingga kesempatan belanja juga mepet waktunya. Untuk itu rasanya perlu ada himbauan atau aturan agar THR diberikan di awal Ramadhan….heheheheehe Mau bAngetzz….
Selain belum ada kenaikan harga tentunya bila segala sesuatu keperluan Lebaran telah disiapkan jauh hari sebelum memasuki Ramadhan, tentunya kita bisa lebih khusyu dalam beribadah tanpa disibukkan dengan kegiatan belanja lagi. Untuk menyiasati harga yang naik cobalah mencari tempat belanja yang lebih murah misalnya di tempat belanja
grosir. Kita bisa berbelanja sekaligus dalam jumlah banyak dengan harga lebih murah, atau rame-rame berpatungan dengan tetangga membeli dalam partai besar.
Hallo…hallo…Jangan belanja aja yang dipikirin ya…ingat kewajiban Bayar Zakat Fitrah Bro…..So uangnya disisihkan ya buat Zakat-nya…
Persiapan Sedekah
Hal lain yang krusial di bulan Ramadhan adalah pahala bersedekah berlipat ganda dibandingkan bulan biasa. Sehingga perlu ada persiapan dana yang cukup untuk melipat gandakan sedekah di bulan ini. Selain zakat fitrah, tentunya kita ingin juga memberikan hadiah lebaran atau THR buat khadimat atau orang yang bekerja pada kita, orang tua atau sanak famili yang membutuhkannya. Adalah jauh lebih penting menyisihkan uang untuk zakat dan sedekah bagi kaum dhuafa ketimbang memesan makanan yang berlebihan atau membeli barang yang tidak benar-benar dibutuhkan.
Marilah kita menunaikan ibadah puasa dengan senantiasa mengendalikan diri dari hawa nafsu. Marhaban ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1429 H.
"SeMoGA SukSes Ya…."
Be New You
Bunch of friends around you,doesn’t mean you will feel happy….even it can make you feel suffer…..Do You??
Friend whom i like 2 choose as a best friend
is the way that your friends wants it from you
it means you need each other to share
if it is really happen in your life,you will happy or sad
it is depend on your view sight about the meaning of friends…
are you sure to choose him or her as a bestfriend?? 
Marhaban Ya Ramadhan
Ass Wr Wb
Salam Ramadhan…
Untuk semua Saudara-saudariku, Maafin aku ya…
jika memang ada kesalahan yang pernah aku lakukan baik sengaja maupun tidak sengaja.Yuk Kita semua mari tingkatkan Keimanan dan Ketaqwaan kita Di bulan Suci Ramadhan yang penuh berkah dan rahmat ini..Semoga ALLAH SWT mengampuni dosa-dosa kita,mendapat ridho dari-NYA,mendapat berkah dari-NYA dan setelahnya nanti semoga Kita menjadi Insan muslim yang lebih baik lagi…Amin..
Ibu Ceritakan kepadaku Tentang Ikhwan Sejati

dari Indrianti
Seorang remaja pria bertanya pada ibunya: Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati…
Sang Ibu tersenyum dan menjawab… Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya….
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran…..
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa …
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati ditempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati didalam rumah… � Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan…
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu…
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya…
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan…
Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca…
….setelah itu, ia kembali bertanya…
" Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ?"
Sang Ibu memberinya buku dan berkata…. "Pelajari tentang dia…" ia pun mengambil buku itu
"MUHAMMAD", judul buku yang tertulis di buku itu
Aku Takut Menikah karena belum….

1. Belum Bekerja
Inilah masalah klasik seputar menikah, terutama bagi pihak pemuda. Ketika sudah merasa cocok dengan seorang muslimah, dan jika ditunda-tunda bisa berakibat buruk, ternyata si Pemuda belum punya pekerjaan untuk menghidupi keluarga kelak. "mau dikasih makan apa anak dan istri kamu, dikasih cinta doang ?!?" Begitulah perkataan sinis yang senantiasa terngiang-ngiang ditelinganya.
Seorang laki-laki memang merupakan tulang punggung dalam sebuah keluarga. Menghidupi seluruh anggota keluarga adalah tangging jawabnya. Rasulullah bersabda, yang artinya, "Bertaqwalah kepada Allah dalam memperlakukan wanita. Sebab kamu mengambilnya dengan amanat Allah dan farjinya menjadi halal bagi kamu dengan kalimat Allah. (Menjadi) kewajiban kamu untuk memberi rizki dan pakaiannya dengan cara yang baik." (HR.Muslim)
Dengan demikian, penghasilan dalam suatu keluarga memang diperlukan. Namun sebenarnya, tidak berarti belum kerja kemudian tidak boleh menikah. Allah SWT berfirman, yang artinya, "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian (belum menikah) diantara kamu, dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Surat An-Nur : 32)
Penghasilan bisa dicari setelah menikah. Yang pertama kali harus dilakukan adalah percaya dan yakin akan janji Allah pada firman-Nya di atas. Tak sedikit pemuda yang susah mencari kerja sebelum menikah, tapi setelah menikah ternyata banyak tawaran kerja dan peluang kerja.
Sebagai persiapan sebelum menikah, kesungguhan dalam menuntut ilmu dunia agar kelak mudah mendapatkan penghidupan yang baik pula untuk dilakukan. Walaupun tak selamanya relevan, kuliah yang baik dan dan prestasi yang bagus masih merupakan suatu modal yang dapat diandalkan dalam mencari kerja. Bagaimana kalau kuliah sudah terlanjur tidak karuan ? Jika sudah begini perlu juga pegang prinsip bahwa pekerjaan kelak tidak harus sesuai dengan bidang yang dipelajari saat ini. Banyak yang dapat rejeki lumayan dari bekerja dalam suatu bidang yang dulu tidak pernal dipelajari dalam jenjang pendidikan formal.
Persiapan lain yang bisa dilakukan adalah kuliah sambil kerja. Sembari menabung, juga bisa untuk jaga-jaga apabila ketika lulus nanti tidak langsung diterima bekerja sesuai bidang yang dipelajari.
2. Belum Lulus
Berbeda dengan yang pertama, masalah yang satu ini bisa menjadi penghalang bagi pihak pemuda dan pemudi. Mungkin seseorang sudah bekerja atau sudah punya prinsip untuk mencari kerja setelah menikah namun ia ragu untuk menikah gara-gara belumlulus kuliah. Bisa jadi pula yang punya alasan seperti ini sang pemudi pujaan hatinya. Bayangan kuliah sambil menikah baginya tampak menyeramkan. Kuliah sambil mengurus diri sendiri saja sudah repot apalagi jika harus ditambah tanggung jawab mengurus orang lain. Ditambah kalau si buah hati sudah lahir dan belum juga lulus kuliah, tampaknya akan tambah repot.
Sebenarnya, menikah tidaklah selalu mengganggu kuliah. Malahan hadirnya pendamping hidup baru bisa menambah semangat utuk belajar. Bisa jadi, sebelum menikah malas-malasan belajarnya, ketika sudah menikah malah tambah semangat dan tambah rajin untuk belajar. Tidak sedikit yang mengalami perubahan demikian, apalagi secara peraturan akademik seorang mahasiswa sudah diperbolehkan untuk menikah. Seorang mahasiswa sudah tidak dianggap ABG (Anak Baru Gede) lagi, tapi AUG (Anak Udah Gede) alias sudah dewasa. Seorang yang sudah dewasa dianggap sudah bisa bertanggung jawab apa yang menjadi pilihan hidupnya.
Memang benar untuk tetap mengadakan persiapan jika mengambil jalan menikah di saat masih kuliah. Yang pertama harus disadari adalah bahwa hidup berkeluarga adalah berbeda dengan hidup sendirian. Tidak pantas jika orang yang sudah menikah tetap bebas, lepas, menelantarkan keluarganya sebagaimana dulu bisa ia lakukan ketika masih lajang. Orang yang menikah sambil kuliah juga harus pandai-pandai mengatur waktu antara tanggung jawabnya dalam keluarga dan dalam belajar. Selain waktu, manajemen pemikiran juga solid, karena begitu menikah masalah-masalah dulu yang belum ada mendadak bermunculan secara serentak. Bagaimana memahami pasangan hidup baru, bagaimana jika hamil dan melahirkan, bagaimana mendidik anak, bagaimana mencari rumah -nebeng mertua atau cari kontrakan-, bagaimana bersikap kepada mertua, tetangga dan lain-lain, apalagi masih harus memikirkan pelajaran.
Pusing….? Semoga tidak. Sebenarnya menikah sambil kuliah bisa disiapkan sejak hari ini, bahkan juga sudah sejak SD. Modal awalnya adalah manajemen diri sendiri. Ketika seorang sudah sejak dahulu berlatih untuk hidup mandiri, akan mudah baginya untuk hidup berkeluarga. Misalnya saja sudah sejak SD bisa mencuci pakaian dan piring sendiri, mengatur waktu belajar, berorganisasi, dan bermain, mengatur keuangan sendiri, dan sebagainya. Kesiapan juga bisa diraih jika seseorang biasa menghadapi dan memecahkan problem hidupnya. Karena itu perlu organisasi dan bersaudara dengan orang lain, saling mengenal, memahami orang lain dan membantu kesulitannya.
3. Belum Cocok
Mungkin pula sudah lulus, sudah kerja, sudah berusaha cari calon pasangan tapi merasa belum menemukan pasangan yang cocok, sehingga belum jadi menikah pula, padahal sudah hampir tidak tahan ! Ini juga merupakan masalah yang bisa datang dari kedua belah pihak, baik pihak pemuda maupun pemudi. Kecocokan memang diperlukan. yang jadi ertimbangan dasar dan awal tetntu saja faktor agama, yaitu aqidah dan akhlaknya. Allah berfirman, yang artinya :
"Mereka (perrempuan-perempuan mukmin) tidak halal bagi laki-laki kafir. Dan laki-laki kafir pun tidak halal bagi mereka." (Al-Mumtahanah : 10)
Rasulullah juga bersabda, "Wanita itu dinikahi karena 4 hal : karena kecantikannya, karena keturunannya, karena kekayaannya, dan karena agamanya. Menangkanlah dengan memilih agamanya maka taribat yadaaka (kembali kepada fitrah atau beruntung)." (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain)
Keadaan yang lain adalah nomor dua setelah pertimbangan agama. Namun kebanyakan di sinilah ketidakcocokannya. Sudah dapat yang agamanya bagus tapi kok nggak cocok pekerjaannya, nggak cocok latar belakang pendidikannya, nggak cocok hobinya, warna matanya kok begitu, pakai kacamata, kok hidungnya…dan lain-lain.
Kalau mau mencari kekurangan tiap orang pasti punya kekurangan karena tidak ada manusia yang diciptakan secara sempurna. Sudah cantik, kaya, keturunan bangsawan, pandai, rajin, keibuan, penyayang, tidak pernah berbuat salah.
Ketika seorang pemuda atau pemudi sudah mau menikah, memang seharusnya cari tahu dulu tentang calon pasangan hidupnya ke sahabatnya, saudaranya atau ustadznya, atau yang lainnya, baik kelebihan maupu kekurangannya. Jika sudah tahu, tanyakan pada diri sendiri, apakah bisa menerima dan memaklumi kekurangan serta kelebihan si dia. Rasulullah bersabda, yang artinya,
"Janganlah seorang mukmin laki-laki membenci mukmin perempuan. Bila dia membencinya dari satu sisi, tapi akan menyayang dari sisi lain." (HR.Muslim)
Jadi, jangan hanya melihat kekurangannya saja, tapi juga perlu melihat kelebihannya. Ketika kekurangan sudah bisa diterima, kelebihan akan lebih bisa menimbulkan perasaan suka. Karea itu, jangan sampai sulit nikah karena dibikin sendiri.
4. Belum Mantap
Masalah satu ini juga bisa terjadi pada tiap orang pihak pemuda, pihak pemudi, baik yang sudah kerja atau yang belum, baik sudah lulus atau belum. Pertama kali, perlu diselidiki belum mantapnya itu karena apa, karena tak sedikit yang beralasan belum mantap, ketika ditelusuri larinya juga menuju ketiga masalah ‘belum’ di atas.
Namun ada juga yang belum mantap karena memang merasa persiapan dirinya kurang baik ilmu tentang pernikahan, keluarga, dan pernik-pernik di sekitarnya. Orang seperti ini malah tidak memusingkan masalah ketiga ‘belum’ di atas, karena memang dia merasa belum siap dan belum mampu.
Solusinya tidak lain adalah mementapkan dan mempersiapkan diri. Hal ini bisa ditempuh lewat menuntut ilmu tentang pernikahan, dan keluarga, baik dengan menghadiri pengajian, yang membahas masalah tersebut atau dengan membaca buku-buku mengenainya. Penting pula untuk menimba pengalaman kepada orang yang sudah menikah, karena kadang-kadang buku-buku dan ceramah ilmiah dan formal tidak membahas masalah praktis yang detail yang diperlukan agar siap menikah.
Sumber : Majalah El-Fata Edisi 11 Th.I/2001/1422 hal.16-19
Jangan Putus Asa dalam berdoa

Janganlah membuatmu putus asa dalam mengulang doa-doa, ketika Allah menunda ijabah doa itu�
Ibnu Athaillah as-Sakandari mengingatkan kepada kita semua agar kita tidak berputus asa dalam berdoa.Mengapa demikian? Karena nafsu manusia seringkali muncul ketika Allah menunda ijabah atau pengabulan doa-doa kita. Dalam kondisi demikian manusia seringkali berputus asa, dan merasa bahwa doanya tidak dikabulkan. Sikap putus asa itu disebabkan karena manusia merasa bahwa apa yang dijalankan melalui doanya itu, akan benar-benar memunculkan pengabulan dan Allah.Tanpa disadari bahwa ijabah itu adalah Hak Allah bukan hak hamba. Dalam situasi keputusasaan itulah hamba Allah cenderung mengabaikan munajatnya sehingga ia kehilangan hudlur (hadir) bersama Allah.
Dalam ulasannya terhadap wacana di atas, Syekh Zaruq menegaskan, bahwa tipikal manusia dalam konteks berdoa ini ada tiga hal:
Pertama, seseorang menuju kepada Tuhannya dengan kepasrahan total, sehingga ia meraih ridha-Nya. Hamba ini senantiasa bergantung dengan-Nya, baik doa itu dikabulkan seketika maupun ditunda. la tidak peduli apakah doa itu akan dikabulkan dalam waktu yang panjang atau lainnya.
Kedua, seseorang tegak di depan pintu-Nya dengan harapan penuh pada janji-Nya dan memandang aturan-Nya. Hamba ini masih kembali pada dirinya sendiri dengan pandangan yang teledor dan syarat-syarat yang tidak terpenuhi, sehingga mengarah pada keputusasaan dalam satu waktu, namun kadang-kadang penuh harapan optimis. Walaupun hasratnya sangat ringan, toh syariatnya menjadi besar dalam hatinya.
Ketiga, seseorang yang berdiri tegak di pintu Allah namun disertai dengan sejumlah cacat jiwa dan kealpaan, dengan hanya menginginkan keinginannya belaka tanpa mengikuti aturan dan hikmah. Orang ini sangat dekat dengan keputusasaan, kadang-kadang terjebak dalam keragu-raguan, kadang-kadang terlempar dijurang kebimbangan. Semoga Allah mengampuninya.
Syekh Abu Muhammad Abdul Aziz al-Mahdawi mengatakan, �Siapa pun yang tidak menyerahkan pilihannya dengan suka rela kepada Allah Ta’ala, maka orang tersebut terkena istidraj (sanjungan yang terhinakan). Orang tersebut termasuk golongan mereka yang disebut oleh Allah: �Penuhilah kebutuhannya, karena Aku benci mendengarkan keluhannya.� Tetapijika seseorang memasrahkan pada pilihan Allah, bukan pilihan dirinya, maka otomatis doanya telah terkabul, walaupun beium terwujud bentuknya. Sebab amal itu sangat tergantung pada saat akhirnya. �
Wacana di atas dilanjutkan:
�Allahlah yang menjamin ijabah doa itu menurut pilihan-Nya padamu, bukan menurut pilihan seleramu, kelak pada waktu yang dikehendaki-Nya, bukan menurut waktu yang engkau kehen-daki.�
Seluruh doa hamba pasti dijamin pengabulannya. Sebagaimana dalam firman Allah :
�Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan bagimu. �
Allah menjamin pengabulan itu melalui janji-Nya. Janji itu jelas bersifat mutlak. Hanya saja dalam ayat tersebut Allah tidak menfirmankan dengan kata-kata, �menurut tuntutanmu, atau menurut waktu yang engkau kehendaki, atau menurut kehendakmu itu sendiri.�
Dalam hadits Rasutullah SAW bersabda: �Tak seorang pun pendoa, melainkan ia berada di antara salah satu dari tiga kelompok ini: Kadang ia dipercepat sesuai dengan permintaannya, atau ditunda (pengka-bulannya) demi pahalanya, atau ia dihindarkan dari keburukan yang menimpanya.� (HR. Imam Ahmad dan AI-Hakim).
Dalam hadits lain disebutkan, �Doa di antara kalian bakal di ijabahi, sepanjang kalian tidak tergesa-gesa, (sampai akhirnya) seseorang mengatakan, �Aku telah berdoa, tapi tidak diijabahi untukku. � (HR. Bukhari-Muslim)
Dalam menafsiri suatu ayat �Telah benar-benar doa kalan berdua di ijabahi� maksudnva baru 40 tahun diijabahi doanya. Menurut Syekh Abul Hasan asy-Syadzili, perihal firman Allah: �Maka hendaknya kalian berdua istiqamah�, maksudnya adalah �tidak tergesa-gesa�. Sedangkan ayat, �Dan janganlah kalian mengikuti jalannya orang-orang yang tidak mengetahui�, maksudnya adalah orang-orang yang menginginkan agar disegerakan ijabah doanya. Bahwa ijabah doa itu diorientasikan pada pilihan Allah, baik dalam bentuk yang riil ataupun waktunya, semata karena tiga hal:
Pertama, karena kasih sayang dan pertolongan Allah pada hamba-Nya. Sebab Allah Maha Murah, Maha Asih dan Maha Mengetahui. Dzat Yang Maha Murah apabila dimohon oleh orang yang memuliakan-Nya, ia akan diberi sesuatu yang lebih utama menurut Kemahatahuan-Nya. Sementara seorang hamba itu pada dasarnya bodoh terhadap mana yang baik dan yang lebih bermashlahat. Terkadang seorang hamba itu mencintai sesuatu padahal sesuatu itu buruk baginya, dan terkadang ia membenci sesuatu padahal yang dibenci itu lebih baik baginya. Inilah yang seharusnya difahami pendoa.
Kedua, bahwa sikap tergantung pada pilihan Allah itu merupakan sikap yang bisa mengabadikan hukum-hukum ubudiyah, di samping lebih mengakolikan wilayah rububiyah. Sebab manakala suatu ijabah doa itu tergantung pada selera hamba dengan segala jaminannya, niscaya doa itu sendiri lebih mengatur Allah. Dan hal demikian suatu tindakan yang salah.
Ketiga, doa itu sendiri adalah ubudiyah. Rahasia doa adalah menunjukkan betapa seorang hamba itu serba kekurangan. Kalau saja ijabah doa itu menurut keinginan pendoanya secara mutlak, tentu bentuk serba kurang itu tidak benar. Dengan demikian pula, rahasia taklif (kewajiban ubudiyah) menjadi keliru, padahal arti dari doa adalah adanya rahasia taklij’itu sendiri. Oleh sebab itu, lbnu Athaillah as-Sakandari menyatakan pada wacana selanjutnya:
�Janganlah membuat dirimu ragu pada janji Allah atas tidak terwujudnya sesuatu yang dijanjikan Allah, walaupun waktunya benar-benar nyata.�
Maksudnya, kita tidak boleh ragu pada janji Allah. Terkadang Allah memperlihatkan kepada kita akan terjadinya sesuatu yang kita inginkan dan pada waktu yang ditentukan. Namun tiba-tiba tidak muncul buktinya. Kenyataan seperti itu jangan sampai membuat kita ragu-ragu kepada janji Allah itu sendiri. Allah mempunyai maksud tersendiri dibalik semua itu, yaitu melanggengkan rububiyah atas ubudiyah hamba-Nya. Syarat-syarat ijabah atasjanji-Nya, terkadang tidak terpenuhi oleh hamba-Nya. Karena itu Allah pun pernah menjanjikan pertolongan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW dalam perang Uhud dan Ahzab serta memenangkan kota Mekkah. Tetapi Allah menutupi syarat-syarat meraih pertolongan itu, yaitu syarat adanya sikap �merasa hina� di hadapan Allah yang bisa menjadi limpahan pertolongan itu sendiri. Sebab Allah berfirnian dalam At-Taubah: �Allah benar-benar menolongmu pada Perang Badar, ketika kamu sekalian merasa hina �.
Kenapa demikian? Sebab sikap meragukan janji Allah itu bisa mengaburkan pandangan hati kita terhadap karunia Allah sendiri. As-Sakandari meneruskan:
�Agar sikap demikian tidak mengaburkan mata hatimu dan meredupkan cahaya rahasia batinmu�.
Bahwa disebut di sana padanya pengaburan mata hati dan peredupan cahaya rahasia batin, karena sikap skeptis terhadap Allah itu, akan menghilangkan tujuan utama dan keleluasaan pandangan pengetahuan dibalik janji Allah itu.
(sumber: www.sufinews.com )
